Sunday, July 20, 2014

Biografi Sabar Anantaguna



S. Anantaguna lahir di Manisrenggo ,Klaten, Jawa Tengah, pada tanggal 9 Agustus 1930, dengan nama Santoso bin Sutopangarso. Setelah beranjak dewasa, tanpa diketahui alasannya, dia mengganti namanya menjadi Sabar Anantaguna.
 
Sabar Anantaguna
  


Antaguna Dan Lekra 

Anantaguna berkawan dekat dengan Njoto, salah satu pimpinan tertinggi Partai Kominis Indonesia (PKI) dan pendiri di Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA)yang juga penulis pidato Sukarno. Mereka berkawan sejak kanak-kanak dan pernah duduk satu kelas di MULO, Solo. Perkawanan itu terajut hingga dewasa. Keduanya memiliki beberapa persamaan, yaitu kokoh memegang prinsip, tak banyak bicara serta lihai membuat syair-syair lembut namun menggugah. Hal itu juga yang membuat ia akhirnya aktif di PKI dan LEKRA yang sedang Berjaya pada saat itu.

Sebagai penulis yang tekun dan produktif, Antaguna mula-mula menulis puisi, kemudian juga esai panjang dan cerpen. Karyanya banyak dimuat di Harian Rakjat koran milik PKI dan  Zaman Baru, Majalah Lekra di bawah pimpinan Rivai Apin. Anantaguna juga salah satu redakturnya. Beberapa bulan menjelang G30S, Lekra juga menerbitkan harian Kebudayaan Baru, digawangi oleh Anantaguna.

Di Lekra, Anantaguna adalah penggerak organisasi sekaligus penjaga gawang ideologi. Menjejak kiprah sebagai pendiri Lekra di Jogjakarta dan menjadi Anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra sejak 1959. Ia satu dari sedikit anggota Lekra yang sekaligus kader PKI. Ketika PKI ulang tahun saat masih berjaya, Anantaguna pernah membuat puisi berjudul  Kepada Partai” , yang sangat terkenal pada masanya.

Sebagai seorang penyair senior Lekra, namanya tidak begitu terkenal karena dia memang orang “bawah tanah”. Martin Aleida, mantan wartawan Harian Rakjat yang bertugas meliput di istana presiden periode 1960-an bercerita, tahun 1960-an, dirinya pernah sebulan tinggal seatap dengan Anantaguna di ruang belakang perpustakaan PKI. “Dia pendiam,” kata Martin. “Selama tinggal bersama, kami hanya bicara yang penting-penting saja. Walau satu meja saat makan maupun sarapan, kami diam-diaman. Dia baca koran, saya baca koran.” Perpustkaan itu kini menjadi mess Aceh di Menteng, Jakarta.

27 Agustus – 2 September 1964, PKI menyelenggarakan Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta, diikuti para sastrawan dan seniman revolusioner seluruh Indonesia. KSSR adalah konferensi sastra dan seni pertama, sebagai hasil hasil sidang pleno CC PKI akhir 1963 yang menetapkan tentang pentingnya memberikan garis-garis pokok bagi penciptaan sastra dan seni revolusioner. KSSR bertekad bulat untuk mengabdikan sastra dan seni kepada kaum buruh, tani, dan prajurit. Anantaguna salah satu penggagasnya.

 
Antaguna dan Pulau Buru

Pasca Tragedi 1965, Anantaguna ditangkap dan dipenjara selama 13 tahun (1965-1978) tanpa pernah diadili. Anantaguna diciduk tentara dan ditahan di penjara Salemba. Dalam film dokumenter Tjidurian 19, garapan Lasya F. Susatyo dan M. Abduh Aziz, 2009, Anantaguna bertutur tentang peristiwa penangkapan itu berikut sepenggal kisah tentang kekasihnya, yang rela meninggalkan bangku kuliah dan bekerja menjadi baby sitter untuk bisa mengirim makanan kepadanya di penjara. Anantaguna pun dihajar gundah, sebelum akhirnya, pada sang kekasih, ia berujar “Kalau mau kawin, kawin saja. Sebaiknya kita tak usah ketemu. Tidak enak sama calon suamimu..”. Kekasihnya lantas pergi menikah.

Anantaguna mengarungi laut ke dibawa ke Pulau Buru. Sebagaimana para tahanan politik lainnya, ia juga mengalami siksa mental dan fisik. Teror paling pedih adalah tatkala harus menyaksikan kawan-kawannya disiksa dan meregang nyawa. Penjara kemudian menjadi tempat terbaik ia hayati arti pedas kehidupan. Toh, Anantaguna menolak tunduk pada ketakutan. Ia anggap bahwa setiap persoalan harus sanggup ditaklukkan.

Di Pulau Buru, lahirlah puisi-puisinya yang begitu menawan. 13 tahun kebebasannya dirampas tanpa pernah diadili, menulis puisi adalah salah satu bentuk penghiburan, cara bertahan, sekaligus upaya menjaga mental politik dan ideologi. Sebagian besar puisi Anantaguna yang diproduksi dalam penjara-penjara dan buangan, terutama di Pulau Buru. Hingga akhirnya ia dibebaskan pada tahun 1978.


Pasca Pembebasan

Lepas dari penjara Orde Baru tersebut, Antaguna bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Jangankan pimpinan Lekra macam dia, anggota biasa saja dikucilkan dari masyarakat. Anantaguna juga kembali ke identitas kecilnya.

Pada 1980, ketika Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan sayembara menulis, Antaguna mengirim naskah berjudul Mewarisi dan Memperbaharui Kebudayaan Nasional. Naskah itu ia kirim atas nama Santoso, dan akhirnya juara satu dan mendapatkan hadiah.

Antaguna tak punya anak. Taty, istrinya terbaring lumpuh di Kalimantan. Anantaguna bersama istri sempat dirawat kerabatnya di Kalimantan selama 6 bulan, namun akhirnya kerabatnya kerepotan harus merawat dua orang usia lanjut yang sakit-sakitan. Anantaguna kembali ke Jakarta, hendak dirawat oleh kawan-kawan lamanya.

Di hari tuanya, sosok jangkung, berkacamata, berjanggut dengan tutur kata lembut ini dihajar penyakit Parkinson, yang membuat tangan dan kakinya mulai tertanggu. Anantaguna masih menolak menyerah. Ia masih rajin menyambangi perpustakaan, mengumpulkan data dan menulis dengan tangan beberapa esai.

Para pegiat Komunitas Mata Budaya yang kerap menemani hari-hari terakhir Anantaguna, masih mengingat jelas pesan Anantaguna padanya: “Menulislah tentang masa kini dan masa depan, karena masa kini sendiri sudah banyak keruwetan”.  Di bangsal rumah sakit, dengan lirih Anantaguna berucap, “Kalau menderita itu sudah biasa, yang repot itu kalau jadi beban orang-orang..”

 
Meninggal Dunia

Sendirian dan sakit-sakitan, bolak-balik masuk rumah sakit dalam rentang dua bulan, hingga akhirnya Antaguna digotong ke RSCM dan tak sadarkan diri selama 8 hari. Pada hari Jum’at tanggal 18 Juli 2014, pukul 1.45 WIB, Antaguna mengembuskan nafas terakhir dalam usia 85 tahun, di di bangsal sederhana  RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Setelah disalatkan usai salat Jumat di masjid yang berjarak 50 meter dari rumahnya, jasadnya dimakamkan di TPU Duren Sawit, Jakarta Timur.


Karya

Puisi Anantaguna kerap dimuat koran Harian Rakjat, organ PKI dengan oplah terbanyak pada 1960-an. Puisinya terangkum dalam kumpulan puisi Yang Bertanah Air Tidak Bertanah (1962), Kecapi Terali Besi (1999), dan Puisi-puisi dari Penjara (2010). Cerita pendeknya, bersama cerpenis A.A. Zubir, Agam Wispi, Sugiarti, dan T. Iskandar A.S. masuk dalam kumpulan cerita pendek Api 26 (1961). Paling monumental adalah Potret Seorang Komunis, yang dipuji Pramoedya Ananta Toer sebagai “prestasi sastra realisme sosialis”.


“Menulislah tentang masa kini dan masa depan, karena masa kini sendiri sudah banyak keruwetan”

S. Anantaguna




Sumber:
S. Anantaguna . Puisi-Puisi dari Penjara. Ultimus, Bandung. Cetakan Pertama, 2010

Potret Seorang Komunis


Adakah duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental dipipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati,
Adakah tangis lebih tangis yang kita punya
badan lesu dan nafas sendat didada
tapi hasrat dan kerja berkejaran didalam waktu.
Bila terpikir bila terasa bila kesadaran mencari dirinya
bila pernah ditakuti tapi juga disayangi
bila kalahpun berlampauan dan menang akan datang
adalah dada begitu sarat keinginan akan nyanyi
dan apakah yang aku bisa selain hidup.
adalah bangga lebih bangga yang kita punya
dipagi manis daun berbisikan tentang komunis
begitu lembut begitu mesra didesirkan hari biru.
Adakah cinta lebih cinta yang kita punya
sebagai kesetiaan yang berkibar diwaktu kerja

Harian Rakjat, 6 April 1957

                                        

Saturday, November 23, 2013

Marxisme dan Ateisme

—Untuk para santri dan para Akhwat-Ikhwan yang hendak membaca Marxisme
oleh: Muhammad Al-Fayyadl


‘APAKAH mempelajari Marxisme mensyaratkan, dan menggiring orang pada, ateisme?’ Pertanyaan demikian kerap mengganggu mereka yang tertarik dengan gagasan-gagasan Marxis dan kiri secara umum, atau yang tertarik untuk mulai membaca Marx serta mengoleksi teks-teks Marxisme. Beruntung jika setelah bertanya, ia menemukan jalannya sendiri untuk mempelajari Marx; namun lebih sering, dihantui rasa takut, lebih-lebih ditakut-takuti oleh pihak lain, orang lebih memilih menjauhi nama itu, demi alasan ‘menjaga keutuhan akidah dan iman.’

Terdengar seperti remeh, pertanyaan itu, namun demikian, merupakan pertanyaan, yang bahkan para Marxis sendiri dan kaum kiri secara umum, belum dapat menjawabnya dengan memuaskan. Selalu ada kebuntuan tertentu, ambiguitas tertentu, dalam penyikapan kaum Marxis terhadap agama. Itu disebabkan karena terjadi ketumpangtindihan antara sikap metodologis dan sikap aksiologis-ideologis begitu mereka berhadapan dengan teks-teks Marx: sikap metodologis menuntut teks-teks Marx didekati sebagai suatu teks ‘ilmiah’ yang terbuka untuk dikaji, dipelajari, dikritik, sementara sikap aksiologis-ideologis menuntut bahwa pendekatan itu tidak berhenti sebagai suatu wawasan pengetahuan, tetapi juga harus memberi pengaruh dan bahkan membentuk ‘kepribadian,’ pikiran, dan mentalitas ideologis si pembaca sebagai militan dan aktivis Marxis.

Kemenduaan itu, paradoksnya, bukan akibat kesalahan para pembaca Marx, atau kita yang hari ini mulai membaca Marx dan literatur-literatur Marxisme, tetapi muncul dari teks-teks Marx sendiri, yang selalu berayun dan bergerak dalam ketegangan antara kesatuan teori dan praktik, antara keinginan untuk memahami dan praktik untuk mengubah. Dalam hal ini, Marx berhasil keluar dari kebuntuan debat tentang prioritas antara pemikiran dan tindakan, antara refleksi dan aksi, karena berpikir, bagi Marx, adalah suatu bentuk tindakan, sebagaimana secara dialektis, bertindak adalah suatu bentuk kerja pemikiran dalam dunia nyata. Dalam kapasitas itu Marx secara personal tampil sebagai pemikir sekaligus aktivis pergerakan, dan teks-teksnya menjahit secara tak terpisahkan kedua aspek ini: sisi yang bertolak dari konfrontasinya dengan gagasan-gagasan, di satu sisi, dan sisi yang mencatat konfrontasi fisiknya dengan konstelasi pergerakan dan aktivisme yang ia hadapi.

Ketumpangtindihan itu muncul dari sini: kekaguman sebagian pembaca Marx terhadap Marx lalu seakan meniscayakan bahwa mereka harus meniru Marx dan segala atribut personal, atau juga jalan hidup, yang dipilihnya. Pilihan Marx sebagai seorang ateis lalu dipahami sebagai keharusan untuk juga menjadi ateis, jika ingin menjadi Marxis. Demikian juga, kekecewaannya pada agama diinternalisir sebagai kekecewaan yang mesti ditelan mentah-mentah agar spirit Marxisme menetes dalam diri mereka.

Pertanyaannya sekarang, dari mana muncul penerimaan bahwa Marxisme identik dengan ateisme? Dari perangai para Marxis-kah, dari biografi hidup Marx, atau dari teks-teks Marx sendiri? Perangai para Marxis, betapapun merefleksikan pemikiran Marxis yang mereka anut, tidak cukup meyakinkan untuk menjamin kebenaran opini yang telanjur menjadi stigma bagi Marxisme ini. Marxisme berkembang sebagai tradisi pemikiran dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda-beda, diresepsi, dan diapropriasi seturut kondisi-kondisi yang mensituasikan para Marxis tersebut. Untuk tahu mengapa mereka ateis, seseorang mesti mempelajari konteks diskursif Marxisme dan agama di ruang dan waktu tertentu di mana mereka hidup. Biografi Marx, demikian juga, tidak cukup memberi landasan untuk membenarkan opini itu. Marx, sebagaimana para sosialis dan komunis sebelumnya, tidak lepas dari konteks diskursif yang mempertemukannya dalam konfrontasi dengan agama, sehingga jika ia ateis, ada latar belakang biografis, sosial, dan politis, yang tidak terhindarkan mesti juga dipelajari. Di antara biografi Marx dan teks-teksnya, ada celah yang memungkinkan kita mencari jawaban atas pertanyaan ini.

Sederhananya, penting untuk mengetahui biografi Marx dan berbagai renik konteks kehidupannya, namun lebih penting lagi, membaca teks-teks Marx untuk mengkaji secara persis pemikiran dan teorinya tentang agama. Di antara biografi dan pembacaan atas teks-teks itu, kita akan menemukan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara Marxisme dan ateisme. Meski Marx memilih menjadi ateis, namun teks-teksnya bukan suatu ajakan untuk memeluk ateisme, atau mengandung suatu perintah ‘suci’—yang mesti ditaati pembacanya—untuk berganti haluan pada ateisme.

                                                                          ***

Sebagai sebuah teks ilmiah, apa yang ditulis tentang agama adalah sebuah wacana, wacana tentang agama. Untuk menempatkan pandangan Marx tentang agama sebagai suatu wacana tentang agama, teks Marx, tidak lebih istimewa daripada teks-teks lain yang menulis tentang agama, layak dibaca pertama-tama dalam kapasitasnya sebagai suatu tawaran metodologis. Dibaca secara metodologis, wacana ini memberikan bahan kajian dan refleksi tentang agama, pertama-tama sebagai objek kajian yang terbuka untuk dipelajari, dan kedua, sebagai salah satu cara—di antara sekian banyak cara lain yang bisa ditempuh—untuk melihat agama dari sudut pandang lain yang tidak normatif. Untuk melakukan pembacaan secara metodologis ini, seseorang memang perlu melepaskan terlebih dulu prasangka-prasangka pra-metodologisnya dan terbuka kepada wacana baru yang hendak dipelajari.

Wacana agama Marx, dilihat dari statusnya sebagai sebuah wacana tentang agama, tidak berbeda dengan wacana agama yang ditulis oleh seorang pendakwah agama yang paling konservatif atau fundamentalis sekalipun. Andaikan di depan saya ada sebuah teks yang ditulis Marx, dan di sebelahnya, ada sebuah teks yang ditulis oleh Osama bin Laden, tidak ada perbedaan antara keduanya dalam status keduanya sebagai wacana tentang agama. Tetapi, jika saya memilih teks Marx daripada teks Osama, yang menjadi pertanyaan: apa motif saya memilih teks Marx? Apakah karena nama Marx lebih terdengar bergengsi daripada Osama? Ataukah karena saya lebih suka begitu saja, secara arbitrer, pada Marx daripada Osama, tanpa alasan yang jelas? Banyak motif yang bisa muncul, baik karena alasan preferensial (suka/tak suka) maupun karena alasan superfisial (nama Marx lebih ‘eksotis’). Tetapi, saat mencoba beranjak dari motif-motif ini, saya akan menemukan bahwa ketertarikan saya—misalnya—pada Marx didorong oleh motif karena sebagai wacana, apa yang ditulis Marx membuat saya—sebagai pembaca, misalnya—lebih terdorong untuk berpikir ulang tentang agama, daripada teks Osama yang membuat saya semakin tertutup dalam beragama—argumen ini tentu dapat diperpanjang lagi.

Apa yang membedakan teks Marx persisnya dalam hal ini? Perbedaan teks Marx, lebih lanjut, terletak pada fakta bahwa wacana agama yang dibawanya adalah suatu kritik agama. Tidak berhenti pada fakta deskriptif tentang agama, Marx melancarkan suatu kritik agama, dalam arti menempatkan ‘agama,’ dalam ‘totalitas’-nya, sebagai suatu objek kritis. Terlepas dari nantinya apakah kritik ini fair atau tidak (suatu pertanyaan yang tidak ada salahnya diajukan dalam proses pembacaan ini), pertama-tama, seseorang perlu mencoba melihat pandangan agama Marx bukan menurut pandangan si pembaca, tetapi, secara dialektis, melihat agama di mata Marx, sebagaimana dilihat dan dipikirkan oleh Marx. Pergantian posisi ini yang diistilahkan oleh Slavoj Žižek sebagai parallax atau pergantian-posisi-pengamat: berhadapan dengan seorang filsuf, menurutnya, adalah memposisikan diri kita bukan sebagai pengamat bagi pandangan-pandangan filsuf itu dan melakukan penilaian berdasarkan apa yang kita inginkan darinya, melainkan, sebaliknya, memposisikan filsuf itu sebagai pengamat bagi kita dan menjadikan kita seolah-olah ‘objek kritik’ di hadapannya.

Dengan cara pandang parallax—perubahan posisi sebagai pembaca dari pelaku kritik menjadi objek kritik—terjadi eksteriorisasi, yakni kondisi ketika kita melihat diri kita terbelah antara diri kita sebagaimana hadir kepada diri kita, dan ‘citra’ diri kita sebagaimana dihadirkan oleh pihak yang lain. Secara analogis dapat dikatakan: melalui eksteriorisasi ini, kita melihat, di satu sisi, agama sebagaimana yang kita anut hadir pada diri kita, namun, agama itu tidak lagi sama karena di sisi lain, kita melihat agama sebagaimana dipikirkan oleh Marx terpantul sebagai suatu hal baru yang berbeda dari apa yang kita pikirkan tentang agama. Dengan demikian, terdapat dua ‘agama’ di sini: ‘agama’ sebagaimana yang saya yakini benar dan ‘agama’ sebagaimana dipikirkan oleh Marx dan terpantul pada agama yang saya yakini benar, namun menghadirkan sesuatu yang baru yang belum pernah saya pikirkan dalam agama yang saya yakini benar.

Dengan eksteriorisasi ini, agama dapat menjadi objek kritik, tanpa seseorang yang merasa beragama perlu melihat dengan motif personal apa kritik itu dilancarkan (tanpa melihat apakah yang mengatakannya seorang ateis atau teis). Terjadi gerak dari agama yang dihayati (interiorisasi) ke agama yang diamati (eksteriorisasi). Juga terjadi gerak depersonalisasi: dari agama yang diyakini secara pribadi ke agama sebagaimana yang ia lihat sebagai suatu fenomena eksternal, yaitu agama sebagai institusi sosial, atau yang disebut Durkheim, agama sebagai “fakta sosial”.

Bila boleh diresume dalam beberapa paragraf saja—meskipun hal ini perlu diuji dengan referensi tekstual yang ketat atas konstelasi teks-teks Marx sendiri—visi kritik (atau lebih tepatnya, ‘metakritik’) dalam kritik agama Marx adalah eksteriorisasi dan depersonalisasi agama ini, yaitu dorongan untuk menunjukkan bahwa agama adalah suatu fenomena eksternal yang objektif, yang melampaui gambaran agama sebagaimana diyakini oleh individu-individu pemeluk agama itu sendiri. Bahwa agama, dengan kata lain, bukan sebagaimana ‘aku’ atau ‘engkau’ yakini, tetapi adalah yang ‘kita’ dan ‘mereka’ lakukan, sebagai suatu fenomena sosial yang objektif, yang dapat diamati, sebagai rangkaian praktik yang membentuk suatu ‘totalitas’ bernama agama. Agama sebagai fenomena eksternal yang objektif ini—terlepas dari framing akademis yang dilakukan sesudahnya oleh sosiologi agama—menerjemahkan visi Marx, yang merentang dari teks Pendahuluan Kontribusi bagi Kritik Filsafat Hak Hegel sampai Ideologi Jerman, tentang perlunya memperlihatkan, terutama bagi pemeluk agama, sifat keduniaan dari agama: bahwa agama, begitu menjadi fenomena sosial—terlepas dari asal-usul keilahian atau profetiknya, yang nyaris tidak pernah disinggung Marx—mesti diperlakukan sebagai suatu kenyataan sosial yang sama objektif dan dapat diamati sebagaimana fenomena-fenomena sosial yang lain.

Secara anekdotal, Marx seperti ingin mengatakan: ‘Apapun yang engkau yakini atau siapapun yang engkau sembah, dengan nama apapun engkau menyebut sesembahanmu, atau dengan cara apapun engkau berdebat tentang siapa yang paling benar dalam caramu meyakini sesembahanmu, engkau dalam kenyataannya mempraktikkan apa yang engkau yakini dalam kehidupanmu sebagai makhluk sosial, dan hal terakhir ini yang kulihat dan hendak kukritik.’

Kesimpangsiuran persepsi tentang hubungan antara Marxisme dan agama, baik dari rata-rata kalangan Marxis terhadap kaum beragama maupun dari rata-rata kaum beragama terhadap Marxis, muncul dari kekaburan memahami posisi metodologis di mana Marx berdiri, yang merembet pada pencampuradukan posisi aksiologis-ideologis yang terbentuk kemudian. Dilihat dari rata-rata posisi Marxis terhadap kaum beragama, kritik agama Marx tampak sebagai suatu penolakan total atas agama sebagai ilusi yang harus ditinggalkan, di mana ateisme merupakan satu-satunya jalan keluar. Sementara itu, dilihat dari pandangan rata-rata kaum beragama, kritik Marx tampak sebagai permusuhan total terhadap agama, di mana penolakan atas Marx dan penyematannya sebagai ateisme merupakan jalan keluar. Menarik melihat bahwa kedua posisi ini, meski berbeda dalam solusinya, berangkat dari titik tolak asumsi yang sama.

Kekaburan itu persisnya timbul dari pencampuradukan antara, kalau boleh saya istilahkan, dua logika yang sama-sama benar dan absah dikenakan untuk mengidentifikasi ‘agama:’ logika spiritual dan logika dunia. Logika spiritual melihat agama dengan parameter-parameter internal agama yang bertujuan memvalidasi kebenaran agama yang diyakini sebagai suatu hal yang ilahiah, sakral, dan abadi. Sementara, logika dunia melihat agama dengan parameter-parameter eksternal agama, yaitu agama sebagai praktik dan institusi yang bekerja dengan ‘hukum-hukum dunia’ yang bisa diamati, dan dapat berubah seiring dengan perubahan tata sosial yang membentuk dan dibentuknya.

Rata-rata kaum beragama menilai apa yang dilakukan Marx dalam kerangka logika spiritual yang mereka anut—sehingga kritik Marx dianggap serangan terhadap nilai-nilai terdalam agama—ketika kritik itu, di sisi lain, justru dibangun dengan logika dunia dan dialamatkan untuk memperlihatkan logika dunia dari agama itu sendiri. Sementara itu, rata-rata kaum Marxis, dalam kerangka logika dunia yang mereka anut, melihat kritik Marx ditujukan kepada logika spiritual agama, untuk menggantinya dengan suatu logika spiritual ‘baru,’ suatu ‘agama’ baru, atau suatu ‘kepercayaan’ baru—‘ateisme’—yang pada intinya adalah penolakan terhadap agama. Dengan demikian, menjadi lengkap sudah disjungsi total antara keduanya sehingga agama dan Marxisme dipostulatkan sebagai dua hal yang tidak pernah dapat dipertemukan.

Untuk mengurai simpul-simpul kebuntuan itu, apa yang bisa dilakukan adalah mencoba menempatkan masing-masing logika pada ranah kebenarannya sendiri: logika spiritual agama memiliki ranah kebenaran yang, pada-dirinya, dapat memvalidasi-diri, sejauh ia berurusan dengan parameter-parameter internal agama. Dalam hal ini, sekadar mengambil contoh, klaim agama tentang eksistensi Tuhan, misalnya, atau eksistensi kehidupan pasca-kematian, merupakan ranah di mana agama dapat memvalidasi-dirinya—dengan berbagai teologinya—karena hal-hal tersebut merupakan ranah di mana logika dunia tidak dapat sepenuhnya memverifikasi, tanpa terjebak oleh kebuntuan dan kesulitan-kesulitan. Dalam konteks klaim internalnya, ada kebenaran agama yang, dilihat dari logika spiritual dan ‘rasionalitas agama,’ masuk akal dan dapat diterima, walaupun dilihat dari logika dunia, kebenaran itu boleh jadi tidak masuk akal dan non-sense.

Di sisi lain, logika dunia memiliki ranah kebenarannya sendiri, yang juga valid pada-dirinya, ditinjau dari sudut bahwa ia dapat dipikirkan oleh ‘rasionalitas faktual’ dunia itu sendiri. ‘Materialisme,’ sebagai suatu ontologi sosial (baca: pemikiran mendasar tentang masyarakat, individu, dan sejarah), dalam hal ini, sebagai suatu bentuk logika dunia (baca: cara memikirkan dunia sebagaimana adanya), memiliki kebenarannya yang dapat divalidasi dengan rasionalitas yang dapat dikenali dan dipelajari dari fakta-fakta dunia. Sebagai suatu logika dunia, materialisme berkepentingan untuk mencoba memahami dunia dengan memahami perubahan-perubahan yang inheren dan melekat pada dunia itu sendiri sebagai realitas yang ‘material.’ Agama adalah salah satu realitas ‘material’ itu, sehingga bila logika dunia membaca agama, ia membacanya dalam rangka memahami dinamika agama sebagai realitas ‘material.’ Dilihat dari logika dunia, hal ini masuk akal, walaupun dilihat dari logika spiritual agama, hal ini akan dipandang menistai kesakralan agama—suatu kekhawatiran yang sebenarnya terlalu berlebihan, dilihat dari logika dunia, karena bagaimanapun agama bisa eksis karena ia berpijak di atas dunia.

Dengan menempatkan kedua logika ini dalam ranah kebenarannya masing-masing, kita sepertinya tidak akan kesulitan untuk menjawab, misalnya, mengapa rata-rata Marxis belum bisa menerima agama sebagai suatu kenyataan ilahiah, karena mereka melihat fenomena ‘spiritual’ agama dengan logika dunia. Sebaliknya, kita akan mulai mengerti mengapa rata-rata kaum beragama tidak kunjung memahami kapitalisme, misalnya, sebagai suatu persoalan sosial dan bukan moral semata, karena mereka masih melihat perubahan-perubahan keduniaan dengan logika spiritual. Ketidaksinkronan ini mengakibatkan ketidakmampuan kedua pihak untuk mengakui kebenaran pihak lain, karena keduanya tidak melihat ranah di mana masing-masing bekerja.

Dua logika ini tentu kemudian tidak selamanya seterpisah kelihatannya, karena, di antara kepekatan yang melapisi keduanya, terdapat titik-titik persinggungan, titik-titik yang memungkinkan lahirnya hal-hal baru, pertemuan-pertemuan yang tak terduga, dan persilangan-persilangan yang mengejutkan. Titik persinggungan itu yang memungkinkan dunia dipikirkan oleh logika spiritual, yang melahirkan—untuk menyebut contoh klasik—Teologi Pembebasan, dalam berbagai versinya (Kristiani, Islam, atau Yahudi), atau pemikiran orang-orang seperti Thomas Münzer, teolog pemimpin para petani revolusioner dari abad ke-16. Gagasan-gagasan ini dapat dilihat sebagai pelampauan logika spiritual agama untuk keluar dari ranah kebenarannya sendiri dan bertemu dengan kenyataan faktual dunia. Di sisi lain, terdapat titik persinggungan yang memungkinkan agama dipikirkan-ulang oleh logika dunia, seperti tercermin dari gagasan Engels yang melihat kesejajaran antara sosialisme modern dan agama Kristen primitif, dalam cita-cita pembebasan keduanya. Dengan tetap menjadi materialis secara filosofis, dan ateis secara ‘irreligius,’ Engels tidak menafikan karakter ganda dari agama yang, tidak sesederhana stereotipe para filsuf Pencerahan, melihat agama tidak melulu identik sebagai kekuatan kolot dan reaksioner. Seperti Marx dari teks Kontribusi bagi Kritik Filsafat Hak Hegel, ia melihat karakter ganda dari agama, yang mempertahankan tatanan yang dominan, namun di sisi lain dapat mengubahnya.

Pemikiran Engels terdengar dari jauh seperti sebuah teologi, hingga kita akan salah mengira bahwa dia seorang teolog. Di sisi lain, Münzer dari jauh tampak seperti seorang ateis yang revolusioner, meski nyatanya ia seorang agamawan yang taat. Kesan yang menipu ini barangkali sedikit isyarat, bahwa pada gilirannya menjadi tidak relevan atribut ateis atau teis yang disandang. Ateisme mungkin adalah pilihan yang masuk akal bagi sementara orang, walaupun tentunya bukan pilihan cerdas dan terbaik. Tetapi, seorang ateis seperti Engels yang mau bersusah payah memikirkan agama, setidaknya lebih baik, menurut logika dunia, daripada seorang agamawan yang lebih sibuk memikirkan ‘keagungan’ agamanya, di tengah masyarakat yang lapar dan pemerintahan yang korup. Engels sepertinya tak akan ‘selamat’ di akhirat, tapi setidaknya selama di dunia, ia sudah memikirkan sesuatu yang terlupakan dari perhatian orang-orang yang hanya berpikir untuk masuk surga, sementara membiarkan tetangganya kelaparan.***

Karl Marx

Sumber : IndoPROGRESS pada 26 April 2013

Buku Dan Tulisan Karya DN. Aidit


Sebagai seorang tokoh pada salah satu Partai Komunis terbesar di dunia, yakni PKI, Dipa Nusantara Aidit (D.N. Aidit) telah banyak menuliskan pikiran-pikirannya dalam sejumlah buku dan tulisan. Sebagian daripadanya adalah:
  1. Sedjarah Gerakan Buruh Indonesia, Dari Tahun 1905 Sampai Tahun 1926 (1952)
  2. Perdjuangan dan Adjaran-Adjaran Karl Marx (1952)
  3. Menempuh Djalan Rakjat: Pidato Untuk Memperingati Ulang Tahun PKI jang Ke-32 - 23 Mei 1952 (1954)
  4. Tentang Tan Ling Djie-isme: Referat jang Disampaikan Pada Kongres Nasional Ke-V PKI (1954)
  5. Untuk Persatuan yang Lebih Luas (1954) (Baca / Download Bukunya Disini)
  6. Djalan ke Demokrasi Rakjat Bagi Indonesia: (Pidato Sebagai Laporan Central Comite Kepada Kongres Nasional ke-V PKI Dalam Bulan Maret 1954 (1955) / Bahasa Inggris: The Road To People's Democracy For Indonesia (1955) (Baca / Download Bukunya Disini)
  7. Untuk Kemenangan Front Nasional Dalam Pemilihan Umum, dan Kewadjiban Mengembangkan Kritik Serta Meninggikan Tingkat Ideologi Partai: Pidato Dimuka Sidang Pleno Central Comite ke-3 PKI Pada Tanggal 7 Agustus 1955 (1955)
  8. Pertahankan Republik Proklamasi 1945!: Perdjuangan Untuk Mempertahankan Kemerdekaan Nasional, Perdamaian dan Demokrasi Sesudah Pemilihan Parlemen (1955)
  9. Menudju Indonesia Baru: Pidato Untuk Memperingati Ulang Tahun PKI jang Ke-33 (1955)
  10. Bersatu Untuk Menjelesaikan Tuntutan Revolusi Agustus 1945 (1956) (Baca / Download Bukunya Disini)
  11. Revolusi Oktober dan Rakjat2 Timur (1957)
  12. 37 Tahun Partai Komunis Indonesia (1957)
  13. Konfrontasi Peristiwa Madiun 1948, Peristiwa Sumatera 1956 (1957) (Baca / Download Bukunya Disini)
  14. Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia: Soal-Soal Pokok Revolusi Indonesia (1958)
  15. Sendjata Ditangan Rakjat (1958)
  16. Kalahkan Konsepsi Politik Amerika Serikat (1958)
  17. Visit To Five Socialist States: talk by D.N. Aidit at the Sports Hall in Djakarta on 19th September (1958)
  18. Ilmu Pengetahuan Untuk Rakjat, Tanah Air & Kemanusiaan (1959)
  19. Pilihan Tulisan (1959)
  20. Introduksi Tentang Soal-Soal Pokok Revolusi Indonesia (Kuliah Umum) (1959)
  21. Untuk Demokrasi dan Kabinet Gotong Rojong: Laporan Umum Comite Central Partai Komunis Indonesia Kepada Kongres Nasional ke-VI (1959)
  22. Dari Sembilan Negeri Sosialis: Kumpulan Laporan Perlawatan Kesembilan Negeri Sosialis (1959) (Baca / Download Bukunya Disini)
  23. Peladjaran Dari Sedjarah PKI (1960)
  24. Indonesian Socialism And The Conditions For It's Implementation (1960)
  25. Memerangi Liberalisme (1960)
  26. 41 Tahun PKI (1961)
  27. PKI dan MPRS (1961)
  28. Perkuat Persatuan Nasional dan Persatuan Komunis!: Laporan Politik Ketua CC PKI Kepada Sidang Pleno ke-III CC PKI Pada Achir Tahun 1961 (1961)
  29. Anti-imperialisme dan Front Nasional (1962)
  30. Setudju Manipol Harus Setudju Nasakom (1962)
  31. Pengantar Etika dan Moral Komunis (1962)
  32. Tentang Marxisme (1962)
  33. Untuk Demokrasi, Persatuan dan Mobilisasi : Laporan Umum Atas Nama CC PKI Kepada Kongres Nasional ke-VI (1962)
  34. Indonesian Communists Oppose Malaysia (1962)
  35. Berani, Berani, Sekali Lagi Berani: Laporan Politik Ketua CC PKI Kepada Sidang Pleno I CC PKI, Disampaikan Pada Tanggal 10 Februari 1963 (1963)
  36. Hajo, Ringkus dan Ganjang, Kontra Revolusi: Pidato Ulang Tahun ke-43 PKI, Diutjapkan di Istana Olah Raga "Gelora Bung Karno" Pada Tanggal 26 Mei 1963 (1963)
  37. Langit Takkan Runtuh (1963)
  38. Problems of The Indonesian Revolution (1963)
  39. Angkatan Bersendjata dan Penjesuaian Kekuasaan Negara Dengan Tugas² Revolusi; PKI dan Angkatan Darat (1963)
  40. PKI dan ALRI (SESKOAL) (1963)
  41. PKI dan AURI (1963)
  42. PKI dan Polisi (1963)
  43. Dekon Dalam Udjian (1963) (Baca / Download Bukunya Disini)
  44. Peranan Koperasi Dewasa Ini (1963)
  45. Dengan Sastra dan Seni Jang Berkepribadian Nasional Mengabdi Buruh, Tani dan Pradjurit (1964)
  46. Aidit membela Pantjasila (1964)
  47. Kuliah DN-Aidit - Harian Rakjat (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  48. PKI dan Angkatan Darat (Seskoad) (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  49. Aidit Menggugat Peristiwa Madiun: Pembelaan D.N. Aidit Dimuka Pengadilan Negeri Djakarta, Tgl. 24 Februari 1955 (1964)
  50. "The Indonesian Revolution and The Immediate Tasks of The Communist Party of Indonesia" (1964)
  51. Untuk Bekerdja Lebih Baik Dikalangan Kaum Tani (1964)
  52. Kibarkan Tinggi Panji Revolusi! (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  53. Tentang Sastra dan Seni (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  54. Dengan Semangat Banteng Merah Mengkonsolidasi Organisasi Komunis Jang Besar: Djadilah Komunis jang Baik dan Lebih Baik Lagi! (1964)
  55. Kobarkan Semangat Banteng! - Madju Terus, Pantang Mundur! Laporan Politik Kepada Sidang Pleno ke-II CC PKI jang Diperluas Dengan Komisi Verifikasi dan Komisi Kontrol Central di Djakarta tanggal 23-26 Desember 1963 (1964) / Bahasa Inggris: Set afire the banteng spirit! - ever forward, not retreat! - political report to the second plenum of the Seventh Central Committee Communist Party of Indonesia, enlarged with the members of the Central, 1963 (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  56. Kaum Tani Mengganjang Setan-Setan Desa: Laporan Singkat Tentang Hasil Riset Mengenai Keadaan Kaum Tani dan Gerakan Tani Djawa Barat (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  57. Pemetjahan Masalah Ekonomi Dan Ilmu Ekonomi Indonesia Dewasa Ini (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  58. Politik Luar Negeri Dan Revolusi Indonesia (1964) (Baca / Download Bukunya Disini)
  59. Perhebat Ofensif Revolusioner di Segala Bidang!: Laporan Politik Kepada Sidang Pleno ke-IV CC PKI jang Diperluas Tanggal 11 Mei 1965 (1965)
  60. Politik Luarnegeri dan Revolusi Indonesia (Kuliah Dihadapan Pendidikan Kader Revolusi Angkatan Dwikora jang Diselenggarakan Oleh Pengurus Besar Front Nasional di Djakarta) (1965)

Selain itu, sebagian dari tulisan-tulisannya juga diterbitkan di Amerika Serikat dengan judul The Selected Works of D.N. Aidit (2 Vols.; Washington: US Joint Publications Research Service, 1961).

Kibarkan Pandji Revolusi! (1964), Salah Satu Karya D.N.Aidit





Thursday, November 21, 2013

Biografi Dipa Nusantara Aidit (D.N Aidit) Part.2

Aidit Dan Awal Karir Di Partai Komunis Indonesia (PKI)

Setelah merdeka pada tahun 1945, Wakil Presiden Muhammad Hatta memperkenankan rakyat Indonesia untuk membuat partai-partai politik. Pada bulan November 1945, PKI muncul kembali. Pada akhir April 1946, mereka menggelar Kongres di Solo, Jawa Tengah dan mendeklarasikan PKI kembali sebagai partai legal. Masih di tahun yang sama, Ketua PKI Sardjono, eks tahanan Digul, memindahkan kantor pusat PKI di Solo, ke Jalan Bintaran, Yogyakarta. Aidit  lalu bergabung ke dalam partai tersebut.

Tidak lama setelah itu kader-kader komunis Indonesia yang dipenjarakan di luar negri, “pulang kampung” ke Indonesia. Mereka membawa buku-buku tentang teori Marxisme, yang membuat Aidit berkesempatan memperdalam pengetahuannya tentang Marxisme. Aidit menghabiskan sebagian besar waktunya pada periode 1946-1948 dengan berkutat dalam berbagai aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI). Bersama beberapa yang  tersisa, Aidit  mencoba  membangun kembali  partai.
Pada Bulan Maret 1947 di Malang, Aidit lalu masuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), cikal bakal badan legislatif di Indonesia, dan menjadi Ketua Fraksi PKI. Awal  1948, Aidit kemudian  masuk Komisi  Penterjemah  PKI, yang salah satu tugasnya menerjemahkan Manifes Partai Komunis karya Karl Marx dan Friedrich Engels.

Awal 1948 juga Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang Agitasi dan Propaganda (Agitprop), untuk menyebarkan  lagi  paham  revolusioner  dan  anti-imperialis. Di bawah bimbingan seniornya Alimin (Tokoh PKI), Aidit menerbitkan majalah  dwibulanan Bintang Merah, terbitan PKI yang punya arti strategis. Lalu pada  Agustus  1948, Aidit menjadi anggota  Comite  Central (CC) PKI, dan mengurus agraria.


Aidit Dan PKI


Aidit Dan Keluarga

Awal tahun 1948, Aidit (25  tahun) menikahi Soetanti atau Tanti (24  tahun), secara  Islam  tanpa pesta,  di  rumah KH  Raden  Dasuki, sesepuh PKI  Solo,  yang bertindak  sebagai  penghulu. Ayah Tanti Moedigdo, Ibunya Siti Aminah, dan empat adik Soetanti datang. Hanya Murad dan Sobron, dua adik Aidit, yang mewakili keluarga Belitung.

Tanti adalah mahasiswi  tingkat  tiga  Perguruan  Tinggi  Kedokteran  di  Klaten Yogyakarta juga anggota Sarekat Mahasiswa Indonesia (SMI). Mereka bertemu sekitar tahun 1946 di kantor Bintang Merah. Sutanti adalah anak dari pasangan aktivis pergerakan yang cukup radikal. Ayahnya seorang ningrat keturunan bangsawan Tuban dan pegawai negeri di Kantor Pajak. Dia menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Amir Syarifuddin dan Terlibat dalam Madiun Affair , sehingga akhirnya ditembak mati. Ibunya Siti Aminah, ketika itu menjadi anggota KNIP mewakili Partai Sosialis dan wakil ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sampai kemudian ditahan dan diberhentikan tahun 1965.

Pernikahannya dengan Aidit kian meneguhkan darah aktivis yang ia warisi dari kedua orangtuanya. Ia tahu benar resiko menjadi aktivis politik sekaligus menjadi istri pemimpin tertinggi PKI. Dari pernikahannya itu, Aidit dikaruniai lima orang anak yaitu, Ibarruri Putri Alam, Ilya, Iwan, lalu Ilham dan Irfan (Kembar).


Aidit Dan Pemberontakan Madiun

Berawal ketika Muso (Tokoh Pendiri PKI sekaligus arsitek pemberontakan 1926), yang buron dan lari ke Rusia, kembali diam – diam ke Indonesia pada tahun 1948 dan masuk kembali kedalam PKI. Pemikiran Muso mengenai “Jalan Baru bagi Republik” sejalan dengan pandangan Aidit selama ini. Muso yang saat itu mencoba mendirikan “Soviet Republik Indonesia” didukung penuh olehnya dengan turut melakukan pemberontakan di berbagai daerah. Madiun, Magetan, Cepu, Blora, dan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai massa PKI. Baginya, kehadiran Muso menjanjikan aksi, bukan sekadar angan revolusi.

Setelah Muso menjadi ketua partai, Bulan Agustus 1948, Aidit (25 Tahun)ditugasi mengkoordinasi seksi perburuhan partai. Posisi strategis ini merupakan kepercayaan besar baginya.

Hanya  sebulan  setelah  Aidit  menerima  jabatan  koordinator  seksi  perburuhan  partai, tepatnya pada dini hari 18 September 1948, puluhan ribu buruh dan tani merangsek mengambil alih kekuasaan pemerintah di daerah-daerahdi Madiun, Jawa Timur. Peristiwa ini dikenal dengan “Pemberontakan Madiun”.

Sehari setelahnya, tanggal 19 September 1948, pemberontakan tersebut gagal dan berhasil ditumpas oleh Divisi Siliwangi pimpinan Kol. Gatot Subroto. Mayoritas  pimpinan  partai  tertangkap, lalu dihukum mati seperti Muso dan Amir Syarifuddin. Pemerintah lalu menyatakan kasus Madiun selesai dan menjadi tonggak  perang antara PKI dan tentara.

Aidit berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta tapi dibebaskan karena tak ada yang mengenalnya. Ibarruri Putri Alam,  putri sulung Aidit,  melukiskan, ayahnya  bisa  lolos  ke Jakarta  dengan  menyamar menjadi  pedagang  Cina.  ”Rambutnya  digundul  habis,  Papa  ikut  iring-iringan  konvoi barang.”

Dari Yogyakarta, Aidit ”hijrah” ke Jakarta, dan dikabarkan kabur ke Beijing, Cina. Ada juga versi yang mengatakan kabur ke Vietnam Utara Namun. Ada  yang  menyebut  bahwa sebenarnya  ia hanya mondar-mandir Jakarta-Medan. menurut  buku  karangan  Murad  Aidit,  sang  abang  bersembunyi  di  daerah  pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia memakai nama samaran Ganda. Sejak saat itu dia menghilang.


Aidit Dan Partai Komunis Indonesia (PKI) Pasca Pemberontakan Madiun

Setelah kegagalan pemberontakan Madiun, PKI dihancurkan tetapi tidak dilarang. pada pertengahan 1950,  Aidit (27  tahun) ”muncul” lagi. Pada saat itu PKI sedang menata kembali roda organisasi yang nyaris mati akibat pembersihan pasca Madiun Affair. Bersama Lukman dan Njoto, ia lalu memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam  kurun waktu inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai.

Mereka diam-diam memperluas jaringan PKI di Jakarta dengan membentuk Onder Seksi Comite  di  tingkat  kecamatan dan organisasi  dijalankan  lewat  sistem  komisariat  di Comite Central. Situasinya sulit karena setiap kabinet alergi komunisme. Sampai-sampai  itu  membuat  trio  Aidit-Lukman-Njoto  harus  bersembunyi  dengan menyamar. Aidit  memilih  strategi  defensif sebab penyesuaian perlu dilakukan. Ia juga membawa pembaharuan yang  sangat  drastis. 

Tak cuma berorganisasi,  untuk  meluaskan jaringan, mereka mendirikan sekolah, dari tingkat dasar sampai universitas. Aidit dan Lukman juga kembali menerbitkan Bintang Merah  pada  15  Agustus  1950.

Mengkudeta Tokoh Tua
Pada kongres PKI 7 Januari 1951, Aidit bersama golongan muda berhasil mengisi Politbiro (eksekutif dalam partai) PKI. Golongan-golongan tua hanya diberi tempat sebagai anggota CC PKI yang tidak memiliki fungsi strategis apapun, itu pun tidak permanen.

Kongres  PKI tahun 1954, pengurus PKI  beralih  ke  generasi  muda. Tokoh tua Politbiro seperti  Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Aidit menganggap mereka terlalu lembek, elitis, dan pragmatis. Aidit (31 Tahun) lalu terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI dan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit adalah Sekjen PKI yang termuda, sekaligus yang terakhir. Ia kian sibuk dengan bepergian  ke  luar negeri, mengunjungi dan menghadiri rapat-rapat internasional komunis  di  Vietnam,  Tiongkok,  dan  Rusia.

“Jalan Baru”
Langkah awal yang dilakukan Aidit adalah membangun partai melalui konsepsi “Jalan Baru”, dengan meluncurkan dokumen perjuangan partai  berjudul ”Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi”. Tujuan dari konsep tersebut adalah adalah menunjukkan kepada rakyat bahwa PKI berjuang melalui garis pelembagaan negara (Perjuangan Parlemen) yang lebih menggunakan cara aman, damai, dan demokratis. Jadi pada permulaannya, Aidit menggunakan strategi kanan untuk membangun kembali kekuatan PKI.

Aidit berusaha untuk memuluskan jalannya dengan menjalin kerjasama dengan partai politik yang non-komunis dan anti penjajahan dan melawan kelas borjuis komprador dan kelas feodal. Aidit membuat suatu “front persatuan nasional” untuk memuluskan jalannya dan terbukti berhasil meningkatkan kekuatan PKI.

Aidit membangun  aliansi kekuatan dengan Partai  Nasional  Indonesia  (PNI)  untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang  bisa  dipakai  mengatasi  tekanan  lawan-lawan  politik  mereka. Aidit juga mendekati Nahdatul Ulama (NU), karena dia memandang NU adalah sebuah partai borjuis setelah memisahkan diri dari Masyumi. Strategi Aidit dalam mendari sekutu di antara aliran-aliran politik lainnya mengandung arti bahwa sebenarnya PKI menyesuaikan diri dengan struktur sosial yang di dalamnya kesetiaan budaya, agama, dan politik lebih bersifat vertikal atau komunal (apa yang disebut aliran) daripada horizontal seperti dalam suatu masyarakat yang sadar kelas.


DN Aidit saat memberikan sambutan pada ulang tahun ke-5 Partai Persatuan Sosialis Jerman (Sozialistische Einheitspartei Deutschlands) di Berlin (1958).


Aidit, PKI dan Pemilu 1955

Puncaknya Pada Pemilu pertama di Bulan September  1955, PKI masuk ”empat besar” setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina. Itu artinya, di tangan Aidit, PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis. Di tangan Aidit, PKI menjelma menjadi sebuah partai yang disegani. Kerja keras Aidit membuahkan hasil.

Di tahun 1956  Presiden Sukarno meminta agar partai-partai dibubarkan dan mempunyai konsepsi baru yakni “demokrasi terpimpin”. Aidit yang sangat membutuhkan perlindungan Sukarno mendukung konsepsi barunya tetapi berharap agar partai-partai tidak dibubarkan, karena PKI telah begitu berhasil di dalam parlemen. Pada tahun 1957, Sukarno menyatakan bahwa partai-partai tidak wajib membubarkan diri, sehingga Aidit semakin mendukung kebijakan Sukarno tersebut.

Selain kebijakan untuk menambah anggotanya, Aidit juga mengadakan kursus-kursus umum pemberantasan buta huruf dan kursus-kursus pendidikan dasar sebelum partai ini dapat mengungkapkan gagasan-gagasan Marxis-Leninis kepada sebagian besar pengikutnya yang dengan cepat bertambah banyak itu. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Pada tahun 1957, dalam pemilihan daerah, jumlah suara untuk PKI meningkat hampir 40 persen, bahkan  di  beberapa  daerah  mereka  mayoritas.  Jumlah  anggotanya  yang  semula  hanya 4.000 orang meningkat puluhan kali lipat. Aidit dengan bangga  melaporkan bahwa jumlah  perempuan  anggota  partai  sudah mencapai 100 ribu. Pada  usia 32  tahun Aidit  sudah  menjadi  pemimpin  salah  satu  kekuatan  politik  pasca-revolusi  yang  paling signifikan dan hidup.

Strategi politik yang Aidit lakukan selalu mendapat rintangan dari lawan-lawannya yang takut akan berkembangnya PKI. Beberapa kendala PKI adalah para politisi sipil yang non-komunis dan militer. Angkatan Darat yang telah “sakit hati” akibat peristiwa Madiun selalu mengawasi PKI dan menghalangi perkembangan PKI.

Bulan Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat dan pada Bulan September 1957, Masjumi secara terbuka menuntut supaya PKI dilarang. Pada tahun 1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal dan Presiden Soekarno sendiri memberi angin pada komunis dalam sambutannya.

Pada tahun 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. Di bawah bendera Nasakom, kelompok Komunis secara de facto merupakan unsur terkuat dan dominan dibandingkan dengan dua unsur lainnya, baik kelompok Agama maupun kelompok Nasional.

Sukarno memasukan Aidit dan Nyoto menjadi anggota Front Nasional untuk memperjuangkan Irian Barat sehingga berhasil diselesaikan pada 15 Agustus 1962 dan pada Maret 1962, Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat.

PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer.
karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.

Periode 1963 hingga September 1965, ditengah pro dan kontranya, menjadi masa paling ‘cemerlang’ bagi karir Aidit dan PKI. Pada masa itu, PKI menjadi partai paling ‘revolusioner’, ofensif, dan tercatat sebagai partai yang terdepan dalam berbagai inisiatif politik. PKI kemudian tumbuh pesat menjadi kekuatan politik berpengaruh. Tahun 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan.


Aidit Dan Gerakan 30 September PKI

Gerakan 30 September (Gestapu atau G 30 S) adalah suatu peristiwa penculikan dan pembunuhan  yang dilakukan suatu kelompok militer yang dipimpin Let. Kol. Untung terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yang diduga sebagai “Dewan Jendral” yang akan menggulingkan kekuasaan Soekarno.

Dibalik berjuta kontroversinya, Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto, sebagai petinggi AD,  mengumumkan bahwa  PKI sebagai  pihak  yang  harus  bertanggung  jawab atas peristiwa tersebut. Sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini, walaupun kenyataannya tak  pernah ada  jawaban  tunggal atas siapa sebenarnya “dalang”prahara  tersebut.

Apapun itu, siapapun dalangnya, kenyataannya pada saat itu PKI tetap divonis sebagai “biang kerok” atas peristiwa tersebut, Walaupun keterlibatan langsung PKI belum pernah diungkap secara jelas.

Tanggal 1 Oktober dilakukanlah GESTOK (Gerakan 1 Oktober), yang  langsung dipimpin langsung oleh Soeharto untuk memburu dan menangkap para pemimpin PKI dan simpatisannya, dan Aidit menjadi tokoh utamanya. Terjadilah pembantaian massal  1965  di  Jawa  Tengah,  Bali  yang menyebabkan setengahjuta orang dibunuh dan  dilakukan  atas  prakarsa Soeharto (Pasca G 30 S).


Pelarian, Penangkapan dan Kematian Aidit

Dalam salah satu kesaksiannya dr Tanti Aidit (Istri Aidit), pada 30 September 1965 malam hari DN Aidit, suaminya, diculik tentara. Murad Aidit (Adik Aidit) yang juga sedang berada di rumah yang sama tidak memberikan gambaran kecuali "dibawa dengan mobil oleh orang yang tidak kukenal" bersama ajudannya Kusno. Memori seorang anak berumur 6 tahun, Ilham Aidit (Anak Aidit), agaknya lebih jernih, "Ibunya membentak dua orang berseragam militer warna biru di depan rumah" (Tempo, 7 Okt 2007). Salah seorang yang menjemputnya ialah Mayor Udara Suyono (dengan seragam AU warna biru) dan membawa DN Aidit ke lingkungan Pangkalan Angkatan Udara Halim. Di Halim ia kemudian ditemui oleh Ketua BC PKI Syam.

Persembunyian
Pada tanggal 1 atau 2 Oktober 1965 tengah malam, Aidit disuruh oleh Sam untuk segera naik pesawat yang sudah tersedia untuk terbang ke Yogya bersama pendampingnya Kusno. Keberadaan Aidit di Yogya akhirnya diketahui pihak lain, maka untuk menghilangkan jejak, kemudian perjalanan diteruskan ke Salatiga. Beberapa hari kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Solo.

Penangkapan
Sesampainya Aidit di Solo, dia ditempatkan secara terus berpindah-pindah. Sampai akhirnya ia tinggal dirumah Sri Harto, Ketua SBIM (Sarekat Buruh Industri Metal) di pabrik panci Blima, dan salah satu simpatisan PKI. Tetapi dengan berbagai alasan dan versi, keberadaan Aidit di Solo tersebut akhirnya diketahui para senior Pemuda Pelajar yang memang mencarinya. Saat rumah dimana Aidit tersebut ditempatkan digerebeg oleh sepasukan polisi, Aidit sudah dipindahkan ke kampung Sambeng.

Berdasarkan informasi yang diberikan Brigif 4, malam 21 November 1965, ABRI dan pasukan-pasukan eks Tentara Pelajar di bawah komando operasi Kolonel Jazir Hadibroto, dikerahkan untuk mengepung Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubumen, Solo. Di sebuah rumah di ujung Gang Sidareja, di tepi  sebuah sungai dekat sebuah kuburan. Rumah itu milik seorang perempuan tua bernama Mbok Harjo, seorang pensiunan pegawai Bea & Cukai.

Akhirnya dengan berbagai versi cerita, Aidit tertangkap di rumah tersebut di sebuah kamar rahasia di balik sebuah lemari makan. Dengan paras lusuh dan pucat, ia kedapatan sedang duduk meringkuk memeluk lutut. Dipa Nusantara Aidit pun tertangkap.

Misteri Kematian  Aidit
Banyak versi tentang kematian DN Aidit. Versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum "diberesi". Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati.

Versi kedua mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Versi ketiga mengatakan, sesaat setelah penangkapan, Jendral Soeharto (sebagai panglima Kostrad), memerintahkan agar Aidit dibawa ke Jakarta. Konon kemudian didapat kabar bahwa dalam perjalanan ke Jakarta tersebut ditengah jalan Aidit dihabisi dan tak tentu rimbanya.

Atau ada juga versi yang diterima Istrinya Dr. Sutanti di pengujung November 1965, bahwa sang suami telah dieksekusi di daerah Jawa Tengah. Mungkin di Boyolali atau Solo. Ada juga yang bilang di Tegal.  Pada sebuah subuh di bulan November 1965, Aidit dieksekusi. Tubuhnya diberondong senapan AK sampai habis satu magasin. Jasadnya lalu dikuburkan di sebuah liang (sumur) di dalam markas Kodim, Boyolali, Jawa Tengah. Tanpa tanda, tanpa nisan. Yang jelas, dari berbagai sumber tersebut, DN Aidit meninggal secara misterius di Jawa Tengah, 22/23 November 1965 pada umur 42 tahun.


Ilham Aidit, tak pernah lelah mencari kepastian nasib ayahnya


-Tamat-


Sumber:
Kumpulan Kisah – Kisah Tokoh PKI, Kitab Merah, Majalah Tempo
Menolak Menyerah,Menyingkap Tabir Keluarga Aidit, Era Publisher, Yogyakarta, 2005.
Membedah DN.Aidit, Majalah Tempo
Mengapa Aidit Dan Soekarno Tidak Dibawa Ke Pengadilan?, Majalah Swadesi, 02 September 1998
Komunisme Ala Aidit, Peter Edman, Center for information Analysis, 2005
Sumber Lain


Sebelumnya : Biografi Dipa Nusantara Aidit (D.N Aidit) Part.1