Aidit Dan Awal
Karir Di Partai Komunis Indonesia (PKI)
Setelah merdeka pada tahun 1945, Wakil Presiden Muhammad Hatta
memperkenankan rakyat Indonesia untuk membuat partai-partai politik. Pada bulan
November 1945, PKI muncul kembali. Pada
akhir April 1946, mereka menggelar Kongres
di Solo, Jawa Tengah dan mendeklarasikan PKI kembali sebagai partai legal. Masih
di tahun yang sama, Ketua PKI Sardjono,
eks tahanan Digul, memindahkan kantor pusat PKI di Solo, ke Jalan Bintaran, Yogyakarta. Aidit lalu bergabung ke dalam partai tersebut.
Tidak lama setelah itu
kader-kader komunis Indonesia yang dipenjarakan di luar negri, “pulang kampung”
ke Indonesia. Mereka membawa buku-buku tentang teori Marxisme, yang membuat
Aidit berkesempatan memperdalam pengetahuannya tentang Marxisme. Aidit
menghabiskan sebagian besar waktunya pada periode 1946-1948 dengan berkutat dalam berbagai aktivitas Partai Komunis
Indonesia (PKI). Bersama beberapa yang
tersisa, Aidit mencoba membangun kembali partai.
Pada Bulan Maret 1947 di Malang, Aidit lalu masuk
Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP),
cikal bakal badan legislatif di Indonesia, dan menjadi Ketua Fraksi PKI.
Awal 1948, Aidit kemudian masuk
Komisi Penterjemah PKI, yang salah satu tugasnya menerjemahkan
Manifes Partai Komunis karya Karl Marx dan
Friedrich Engels.
Awal 1948
juga Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang Agitasi dan Propaganda (Agitprop), untuk menyebarkan lagi
paham revolusioner dan
anti-imperialis. Di bawah bimbingan seniornya Alimin (Tokoh PKI), Aidit menerbitkan majalah dwibulanan Bintang Merah, terbitan PKI yang punya arti strategis. Lalu pada Agustus 1948, Aidit menjadi anggota Comite Central (CC) PKI, dan mengurus agraria.
![]() |
Aidit Dan PKI |
Aidit Dan Keluarga
Awal tahun
1948, Aidit (25 tahun) menikahi Soetanti atau Tanti (24 tahun), secara Islam
tanpa pesta, di rumah KH Raden
Dasuki, sesepuh PKI
Solo, yang bertindak sebagai
penghulu. Ayah Tanti Moedigdo,
Ibunya Siti Aminah, dan empat adik
Soetanti datang. Hanya Murad dan Sobron, dua adik Aidit, yang mewakili keluarga
Belitung.
Tanti adalah mahasiswi tingkat
tiga Perguruan Tinggi
Kedokteran di Klaten Yogyakarta juga anggota Sarekat
Mahasiswa Indonesia (SMI). Mereka
bertemu sekitar tahun 1946 di kantor
Bintang Merah. Sutanti adalah anak dari pasangan aktivis pergerakan yang cukup
radikal. Ayahnya seorang ningrat keturunan bangsawan Tuban dan pegawai negeri
di Kantor Pajak. Dia menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Amir Syarifuddin
dan Terlibat dalam Madiun Affair , sehingga akhirnya ditembak
mati. Ibunya Siti Aminah, ketika itu menjadi anggota KNIP mewakili Partai
Sosialis dan wakil ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sampai kemudian ditahan dan diberhentikan tahun 1965.
Pernikahannya dengan Aidit kian meneguhkan darah
aktivis yang ia warisi dari kedua orangtuanya. Ia tahu benar resiko menjadi
aktivis politik sekaligus menjadi istri pemimpin tertinggi PKI. Dari
pernikahannya itu, Aidit dikaruniai lima orang anak yaitu, Ibarruri Putri Alam,
Ilya, Iwan, lalu Ilham dan Irfan (Kembar).
Aidit Dan Pemberontakan
Madiun
Berawal ketika Muso
(Tokoh Pendiri PKI sekaligus arsitek pemberontakan
1926), yang buron dan lari ke Rusia, kembali diam – diam ke Indonesia pada tahun 1948 dan masuk kembali kedalam
PKI. Pemikiran Muso mengenai “Jalan Baru
bagi Republik” sejalan dengan pandangan Aidit selama ini. Muso yang saat
itu mencoba mendirikan “Soviet Republik Indonesia” didukung penuh olehnya
dengan turut melakukan pemberontakan di berbagai daerah. Madiun, Magetan, Cepu,
Blora, dan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai massa PKI.
Baginya, kehadiran Muso menjanjikan aksi, bukan sekadar angan revolusi.
Setelah Muso menjadi ketua partai, Bulan Agustus 1948, Aidit (25 Tahun)ditugasi
mengkoordinasi seksi perburuhan partai. Posisi strategis ini merupakan
kepercayaan besar baginya.
Hanya
sebulan setelah Aidit
menerima jabatan koordinator
seksi perburuhan partai, tepatnya pada dini hari 18 September 1948, puluhan ribu buruh
dan tani merangsek mengambil alih kekuasaan pemerintah di daerah-daerahdi
Madiun, Jawa Timur. Peristiwa ini dikenal dengan “Pemberontakan Madiun”.
Sehari setelahnya, tanggal 19 September 1948, pemberontakan tersebut gagal dan berhasil
ditumpas oleh Divisi Siliwangi pimpinan Kol.
Gatot Subroto. Mayoritas
pimpinan partai tertangkap, lalu dihukum mati seperti Muso
dan Amir Syarifuddin. Pemerintah lalu menyatakan kasus Madiun selesai dan
menjadi tonggak perang antara PKI dan
tentara.
Aidit berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit sempat
dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta tapi dibebaskan karena tak ada
yang mengenalnya. Ibarruri Putri Alam,
putri sulung Aidit, melukiskan,
ayahnya bisa lolos
ke Jakarta dengan menyamar menjadi pedagang
Cina. ”Rambutnya digundul
habis, Papa ikut
iring-iringan konvoi barang.”
Dari Yogyakarta, Aidit ”hijrah” ke Jakarta, dan
dikabarkan kabur ke Beijing, Cina. Ada juga versi yang mengatakan kabur ke
Vietnam Utara Namun. Ada yang menyebut
bahwa sebenarnya ia hanya
mondar-mandir Jakarta-Medan. menurut
buku karangan Murad
Aidit, sang abang
bersembunyi di daerah
pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia memakai nama samaran Ganda.
Sejak saat itu dia menghilang.
Aidit Dan
Partai Komunis Indonesia (PKI) Pasca Pemberontakan Madiun
Setelah kegagalan pemberontakan Madiun, PKI
dihancurkan tetapi tidak dilarang. pada pertengahan
1950, Aidit (27 tahun) ”muncul” lagi. Pada saat itu PKI
sedang menata kembali roda organisasi yang nyaris mati akibat pembersihan pasca
Madiun Affair. Bersama Lukman dan
Njoto, ia lalu memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa
dibilang, dalam kurun waktu inilah
karier politik Aidit sesungguhnya dimulai.
Mereka diam-diam memperluas jaringan PKI di Jakarta
dengan membentuk Onder Seksi Comite di tingkat kecamatan dan organisasi dijalankan
lewat sistem komisariat
di Comite Central. Situasinya sulit karena setiap kabinet alergi
komunisme. Sampai-sampai itu membuat
trio Aidit-Lukman-Njoto harus
bersembunyi dengan menyamar. Aidit memilih
strategi defensif sebab
penyesuaian perlu dilakukan. Ia juga membawa pembaharuan yang sangat
drastis.
Tak cuma berorganisasi, untuk
meluaskan jaringan, mereka mendirikan sekolah, dari tingkat dasar sampai
universitas. Aidit dan Lukman juga kembali menerbitkan Bintang Merah pada 15
Agustus 1950.
Mengkudeta Tokoh Tua
Pada kongres PKI 7 Januari 1951, Aidit bersama golongan muda berhasil mengisi Politbiro (eksekutif dalam partai) PKI.
Golongan-golongan tua hanya diberi tempat sebagai anggota CC PKI yang tidak
memiliki fungsi strategis apapun, itu pun tidak permanen.
Kongres PKI tahun 1954, pengurus PKI
beralih ke generasi
muda. Tokoh tua Politbiro seperti
Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Aidit menganggap
mereka terlalu lembek, elitis, dan pragmatis. Aidit (31 Tahun) lalu terpilih
menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI dan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit
adalah Sekjen PKI yang termuda, sekaligus yang terakhir. Ia kian sibuk dengan
bepergian ke luar negeri, mengunjungi dan menghadiri
rapat-rapat internasional komunis
di Vietnam, Tiongkok,
dan Rusia.
“Jalan Baru”
Langkah awal yang dilakukan Aidit adalah membangun
partai melalui konsepsi “Jalan Baru”,
dengan meluncurkan dokumen perjuangan partai
berjudul ”Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi”. Tujuan
dari konsep tersebut adalah adalah menunjukkan kepada rakyat bahwa PKI berjuang
melalui garis pelembagaan negara (Perjuangan Parlemen) yang lebih menggunakan
cara aman, damai, dan demokratis. Jadi pada permulaannya, Aidit menggunakan
strategi kanan untuk membangun kembali kekuatan PKI.
Aidit berusaha untuk memuluskan jalannya dengan
menjalin kerjasama dengan partai politik yang non-komunis dan anti penjajahan
dan melawan kelas borjuis komprador dan kelas feodal. Aidit membuat suatu “front persatuan nasional” untuk
memuluskan jalannya dan terbukti berhasil meningkatkan kekuatan PKI.
Aidit membangun
aliansi kekuatan dengan Partai
Nasional Indonesia (PNI) untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena,
selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang bisa
dipakai mengatasi tekanan
lawan-lawan politik mereka. Aidit juga mendekati Nahdatul Ulama (NU), karena dia memandang NU adalah
sebuah partai borjuis setelah memisahkan diri dari Masyumi. Strategi Aidit
dalam mendari sekutu di antara aliran-aliran politik lainnya mengandung arti
bahwa sebenarnya PKI menyesuaikan diri dengan struktur sosial yang di dalamnya
kesetiaan budaya, agama, dan politik lebih bersifat vertikal atau komunal (apa
yang disebut aliran) daripada horizontal seperti dalam suatu masyarakat yang
sadar kelas.
![]() |
DN Aidit saat memberikan sambutan pada ulang tahun ke-5 Partai Persatuan Sosialis Jerman (Sozialistische Einheitspartei Deutschlands) di Berlin (1958). |
Aidit, PKI dan Pemilu 1955
Puncaknya Pada Pemilu
pertama di Bulan September 1955, PKI masuk ”empat besar” setelah
PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis
terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia
setelah Rusia dan Cina. Itu artinya, di tangan Aidit, PKI menjadi partai
komunis terbesar di negara non-komunis. Di tangan Aidit, PKI menjelma menjadi
sebuah partai yang disegani. Kerja keras Aidit membuahkan hasil.
Di tahun
1956 Presiden Sukarno meminta agar
partai-partai dibubarkan dan mempunyai konsepsi baru yakni “demokrasi
terpimpin”. Aidit yang sangat membutuhkan perlindungan Sukarno mendukung
konsepsi barunya tetapi berharap agar partai-partai tidak dibubarkan, karena
PKI telah begitu berhasil di dalam parlemen. Pada tahun 1957, Sukarno menyatakan bahwa partai-partai tidak wajib
membubarkan diri, sehingga Aidit semakin mendukung kebijakan Sukarno tersebut.
Selain kebijakan untuk menambah anggotanya, Aidit
juga mengadakan kursus-kursus umum pemberantasan buta huruf dan kursus-kursus
pendidikan dasar sebelum partai ini dapat mengungkapkan gagasan-gagasan
Marxis-Leninis kepada sebagian besar pengikutnya yang dengan cepat bertambah
banyak itu. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok
masyarakat, seperti Pemuda Rakyat,
Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra,
dan lain-lain.
Pada tahun
1957, dalam pemilihan daerah, jumlah suara untuk PKI meningkat hampir 40
persen, bahkan di beberapa
daerah mereka mayoritas.
Jumlah anggotanya yang
semula hanya 4.000 orang
meningkat puluhan kali lipat. Aidit dengan bangga melaporkan bahwa jumlah perempuan
anggota partai sudah mencapai 100 ribu. Pada usia 32
tahun Aidit sudah menjadi
pemimpin salah satu
kekuatan politik pasca-revolusi yang
paling signifikan dan hidup.
Strategi politik yang Aidit lakukan selalu mendapat
rintangan dari lawan-lawannya yang takut akan berkembangnya PKI. Beberapa
kendala PKI adalah para politisi sipil yang non-komunis dan militer. Angkatan
Darat yang telah “sakit hati” akibat peristiwa Madiun selalu mengawasi PKI dan
menghalangi perkembangan PKI.
Bulan Juli
1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat dan pada Bulan September 1957, Masjumi secara terbuka
menuntut supaya PKI dilarang. Pada tahun 1959,
militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian,
kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal dan Presiden Soekarno sendiri
memberi angin pada komunis dalam sambutannya.
Pada tahun 1960,
Soekarno melancarkan slogan Nasakom (Nasionalisme,
Agama, dan Komunisme). Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik
Soekarno dilembagakan. Di bawah bendera Nasakom, kelompok Komunis secara de
facto merupakan unsur terkuat dan dominan dibandingkan dengan dua unsur
lainnya, baik kelompok Agama maupun kelompok Nasional.
Sukarno memasukan Aidit dan Nyoto menjadi anggota Front Nasional untuk memperjuangkan Irian Barat sehingga berhasil
diselesaikan pada 15 Agustus 1962 dan pada Maret 1962, Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat.
PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif
di antara partai-partai politik Islam dan militer.
karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang
dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat
penting di Indonesia.
Periode 1963
hingga September 1965, ditengah pro dan kontranya, menjadi masa paling
‘cemerlang’ bagi karir Aidit dan PKI. Pada masa itu, PKI menjadi partai paling
‘revolusioner’, ofensif, dan tercatat sebagai partai yang terdepan dalam
berbagai inisiatif politik. PKI kemudian tumbuh pesat menjadi kekuatan politik
berpengaruh. Tahun 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan
menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap
kekuasaan.
Aidit Dan Gerakan
30 September PKI
Gerakan 30 September (Gestapu atau G 30 S) adalah
suatu peristiwa penculikan dan pembunuhan
yang dilakukan suatu kelompok militer yang dipimpin Let. Kol. Untung terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira
pertama Angkatan Darat yang diduga sebagai “Dewan Jendral” yang akan
menggulingkan kekuasaan Soekarno.
Dibalik berjuta kontroversinya, Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto, sebagai petinggi AD, mengumumkan bahwa PKI sebagai
pihak yang harus
bertanggung jawab atas peristiwa
tersebut. Sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini,
walaupun kenyataannya tak pernah
ada jawaban tunggal atas siapa sebenarnya “dalang”prahara tersebut.
Apapun itu, siapapun dalangnya, kenyataannya pada
saat itu PKI tetap divonis sebagai “biang kerok” atas peristiwa tersebut,
Walaupun keterlibatan langsung PKI belum pernah diungkap secara jelas.
Tanggal 1 Oktober dilakukanlah GESTOK (Gerakan 1
Oktober), yang langsung dipimpin
langsung oleh Soeharto untuk memburu dan menangkap para pemimpin PKI dan
simpatisannya, dan Aidit menjadi tokoh utamanya. Terjadilah pembantaian
massal 1965 di
Jawa Tengah, Bali
yang menyebabkan setengahjuta orang dibunuh dan dilakukan
atas prakarsa Soeharto (Pasca G
30 S).
Pelarian, Penangkapan
dan Kematian Aidit
Dalam salah satu kesaksiannya dr Tanti Aidit (Istri
Aidit), pada 30 September 1965 malam hari DN Aidit, suaminya, diculik tentara.
Murad Aidit (Adik Aidit) yang juga sedang berada di rumah yang sama tidak
memberikan gambaran kecuali "dibawa dengan mobil oleh orang yang tidak
kukenal" bersama ajudannya Kusno.
Memori seorang anak berumur 6 tahun, Ilham Aidit (Anak Aidit), agaknya lebih
jernih, "Ibunya membentak dua orang berseragam militer warna biru di depan
rumah" (Tempo, 7 Okt 2007). Salah seorang yang menjemputnya ialah Mayor
Udara Suyono (dengan seragam AU warna biru) dan membawa DN Aidit ke lingkungan Pangkalan
Angkatan Udara Halim. Di Halim ia kemudian ditemui oleh Ketua BC PKI Syam.
Persembunyian
Pada tanggal 1
atau 2 Oktober 1965 tengah malam, Aidit disuruh oleh Sam untuk segera naik
pesawat yang sudah tersedia untuk terbang ke Yogya bersama pendampingnya Kusno.
Keberadaan Aidit di Yogya
akhirnya diketahui pihak lain, maka untuk menghilangkan jejak, kemudian
perjalanan diteruskan ke Salatiga.
Beberapa hari kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Solo.
Penangkapan
Sesampainya Aidit di Solo, dia ditempatkan secara
terus berpindah-pindah. Sampai akhirnya ia tinggal dirumah Sri Harto, Ketua SBIM
(Sarekat Buruh Industri Metal) di pabrik panci Blima, dan salah satu simpatisan
PKI. Tetapi dengan berbagai alasan dan versi, keberadaan Aidit di Solo tersebut
akhirnya diketahui para senior Pemuda
Pelajar yang memang mencarinya. Saat rumah dimana Aidit tersebut
ditempatkan digerebeg oleh sepasukan polisi, Aidit sudah dipindahkan ke kampung Sambeng.
Berdasarkan informasi yang diberikan Brigif 4, malam 21 November 1965, ABRI dan
pasukan-pasukan eks Tentara Pelajar di bawah komando operasi Kolonel Jazir Hadibroto, dikerahkan untuk mengepung Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubumen, Solo. Di sebuah rumah di
ujung Gang Sidareja, di tepi sebuah
sungai dekat sebuah kuburan. Rumah itu milik seorang perempuan tua bernama Mbok Harjo, seorang pensiunan pegawai
Bea & Cukai.
Akhirnya dengan berbagai versi cerita, Aidit
tertangkap di rumah tersebut di sebuah kamar rahasia di balik sebuah lemari
makan. Dengan paras lusuh dan pucat, ia kedapatan sedang duduk meringkuk
memeluk lutut. Dipa Nusantara Aidit pun tertangkap.
Misteri Kematian Aidit
Banyak versi tentang kematian DN Aidit. Versi
pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon
Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh
berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum
"diberesi". Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat
pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang
mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka.
Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati.
Versi kedua mengatakan bahwa ia diledakkan
bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang
tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.
Versi ketiga mengatakan, sesaat setelah
penangkapan, Jendral Soeharto (sebagai panglima Kostrad), memerintahkan agar
Aidit dibawa ke Jakarta. Konon kemudian didapat kabar bahwa dalam perjalanan ke
Jakarta tersebut ditengah jalan Aidit dihabisi dan tak tentu rimbanya.
Atau ada juga versi yang diterima Istrinya Dr.
Sutanti di pengujung November 1965, bahwa sang suami telah dieksekusi di daerah
Jawa Tengah. Mungkin di Boyolali atau Solo. Ada juga yang bilang di Tegal. Pada sebuah subuh di bulan November 1965,
Aidit dieksekusi. Tubuhnya diberondong senapan AK sampai habis satu magasin.
Jasadnya lalu dikuburkan di sebuah liang (sumur) di dalam markas Kodim,
Boyolali, Jawa Tengah. Tanpa tanda, tanpa nisan. Yang jelas, dari berbagai
sumber tersebut, DN Aidit meninggal secara misterius di Jawa Tengah, 22/23 November 1965 pada umur 42 tahun.
-Tamat-
![]() |
Ilham Aidit, tak pernah lelah mencari kepastian nasib ayahnya |
-Tamat-
Sumber:
Kumpulan
Kisah – Kisah Tokoh PKI, Kitab Merah, Majalah Tempo
Menolak
Menyerah,Menyingkap Tabir Keluarga Aidit, Era Publisher, Yogyakarta, 2005.
Membedah
DN.Aidit, Majalah Tempo
Mengapa Aidit Dan Soekarno Tidak Dibawa Ke
Pengadilan?, Majalah Swadesi, 02 September 1998
Komunisme Ala
Aidit, Peter Edman, Center for information Analysis, 2005
Sumber Lain
Sebelumnya : Biografi Dipa Nusantara Aidit (D.N Aidit) Part.1
Sumber Lain
Sebelumnya : Biografi Dipa Nusantara Aidit (D.N Aidit) Part.1
keyakinan adalah dasar yang membuat orang itu melakukan sesuatu, untuk itulah orang beragam yang seperti Dia membangun gerakan gerakan karena keyakinannya bahwa sosialis-komunis adalah cara meningkatkan kesejahteraan rakyat.
ReplyDeletesalah satu referensi tentang ideologi pengabdian dan perjalanan idealistis yang katanya basi penuh revisi.. semoga bermanfaat :)
ReplyDeleteterciptanya komunis adalah bagian dari atheis, kita tahu terciptanya komunis karena ketidak puasan terhadap raja raja zaman dahulu, yg tidak bisa adil dan selalu mementingkan diri sendiri. namun dibalik niat untuk adil dan mensejahterakan rakyat, ideologi komunis yg tidak diketahui orang adalah siapa yg bisa merebut kuasa dia akan jadi raja dan tuhan. dengan faham inilah akhirnya semua aktivis komunis sangat bernafsu untuk merebut kekuasaan. lihatlah korea utara, soviet zaman dahulu, china zaman dahulu semua pemimpinya jadi raja dan tuhan bagi rakyatnya. tidak satupun bisa mensejahterakan rakyatnya.
ReplyDeleteterimakasih mas @zulkarnain siregar atas ulasannya, semoga bermanfa'at :)
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKomunisme adalah satu satunya jalan untuk menghapus penindasan dari pemilik modal untuk kulinya.manusia tak boleh menghisap darah sesamanya komunisme bukanlah paham anti ketuhanan tulen
ReplyDeleteKomunisme adalah ketidak puasan akan ketidak adilan yang tidak mengukur proporsi masing" jiwa. Jadi tetaplah gak akan sejahtera hidup manusia . lihatlah korut. Rajanya bergelimang harta, namun rakyatnya tersiksa dengan kemiskinan mereka. Cukup bahagia kita memiliki pemimpin beragama. Karena masih punya hati nurani sebagai hamba tuhan. Klo mereka mengaku beragama namun g pernah beribadah kepada tuhannya pasti akan mengedepankan ego mereka.
ReplyDeleteKekejaman rezim Suharto dimulai pada saat menangkap musuhnya yang tidak berdaya lalu membunuhnya tanpa tedeng aling-aling walaupun musuhnya itu berhak untuk diadili. Rezim Suharto dibangun dengan tipu daya dan kekejaman, Puji Tuhan sekarang orang mulai tahu sebenar-benarnya yang terjadi.
ReplyDeleteSejarah diukir oleh sang pemenang
ReplyDeletedan Misteri terbunuhnya DN Aidit juga sudah terungkap