Periode Tahun 1905 – 1920 (Sejarah Awal Pembentukan)
Latar Belakang
Masa Penjajahan Belanda (tiga setengah abad) yang dirasa tanpa ujung,
akhirnya seperti “membangunkan harimau yang sedang tidur”. Awal abad 20, di Indonesia telah terjadi
perubahan-perubahan sosial yang besar. Pesatnya perkembangan pendidikan Barat,
pertumbuhan penduduk yang meningkat cepat dan munculnya teknologi modern, serta situasi masyarakat
bawah yang semakin memburuk, membuat konsep “Perlawanan” pun akhirnya berubah
dari conservative menjadi cara modern. Sehingga saat itu di Indonesia
banyak muncul organisasi-organisasi perlawanan “modern”, dengan berbagai latar
belakang “kiblat” pemikiran.
Menurut Soe Hok Gie, “Nilai-nilai
tradisional yang telah mengakar di bumi Indonesia, tiba-tiba dikonfrontasikan
secara intensif dengan nilai-nilai tradisional mereka (Barat) dan malah ada
yang sudah mulai melepaskannya, walaupun pegangan yang baru belum mereka
peroleh”, sehingga di tahun tahun tersebut banyak aliran yang saling
bertentangan.
Sebelum tahun 1914, grass root atau masyarakat bawah (buruh,
petani, kaum miskin) tidak mempunyai organisasi politik dan hanya ada beberapa
serikat buruh yang semuanya lemah. Gerakan "nasionalis" dikuasai
pemimpin kolot dari kelas menengah yang berdasarkan agama ataupun kaum ningrat,
sehingga memisahkan para pemimpin nasionalis ini dengan kondisi sosial yang
begitu buruk di kalangan rakyat bawah.
Organisasi pertama yang didirikan oleh kaum muda Indonesia kelas
ningrat ialah Budi Oetomo (BO),
sebuah organisasi yang dijadikan simbol kebangkitan nasional pada tahun 1908. Aktifitas yang digeluti oleh BO
boleh disebut hanya berkutat di bidang pendidikan dan kebudayaan, sedangkan
aktifitas politik tidak dilakukan sama sekali. Hal ini adalah keberhasilan
politik etis yang diagendakan Belanda. Perkumpulan ini juga dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri
yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hal ini pun membuat rakyat
dibawah merasa tidak puas dan mencari “aliran” lain yang dianggap lebih
mewakili mereka.
Sekitar 90% penduduk Indonesia
menganut agama Islam, dan Islam merupakan institusi utama dari masyarakat
tradisional yang gagal dilembagakan Belanda dalam kontrolnya yang tidak
langsung. Oleh karena itu Islam juga menjadi pusat perlawanan anti pemerintahan
asing, walaupun aslinya oposisi ini belum matang dan tanpa bentuk (tidak ada
program politik). Hal ini dibuktikan dengan didirikannya organisasi islam
terbesar kala itu bernama Serikat Islam,
yang merupakan salah satu cikal bakal lahirnya Partai Komunis Indonesia. Gerakan pertama yang berbasis massa
bertitik berat bukan pada nasionalisme ataupun program politik, melainkan pada
agama.
SERIKAT ISLAM
Pada tahun 1905 di Surakarta (Solo), Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI), yang merupakan
organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian rakyat
sebagai dasar penggeraknya. Hingga pada tanggal 11 November 1912, dibawah kepemimpinan H.O.S Tjokroaminoto, SDI
di ganti dengan nama Syarikat Islam (SI)
yang orientasinya bukan sekedar masalah-masalah ekonomi saja, melainkan sudah
mencakup kepada seluruh Manhijul hayal ( meliputi segala aspek kehidupan untuk di warnai dengan corak Islam saja).
SI tidak mempunyai program politik di luar "melayani kepentingan
kaum Islam ", dan keorganisasiannya longgar sekali. Meskipun demikian
keanggotaannya tumbuh dengan pesat dan terutama berpusat di kota. SI berubah menjadi
organisasi “perlawanan”rakyat yang memiliki basis massa besar.
Di dalam SI
berkumpul kaum tani, buruh,
pedagang, ulama, cendekiawan
dan borjuis nasional, juga tokoh-tokoh muda yang berjiwa militan. Tokoh tokoh seperti Soekarno (kemudian membentuk PNI), Kartosoewiryo, dicatat pernah bergabung
di Serikat Islam. Selama di bawah kepemimpinan HOS Tcokroaminoto, SI di seluruh
daerah mencapai 435 cabang di dukung oleh jutaan anggota. Secara grafikal hal ini
mencerminkan pencarian masyarakat bawah untuk menemukan alat perjuangan guna
melawan kondisi mereka yang makin memburuk. SI gagal total memenuhi kebutuhan
ini, meskipun demikian, karena tidak ada pilihan, kegiatan massa tetap terfokus
padanya.
ISDV
Lahirnya ISDV
Lahirnya ISDV
Pada tahun 1908, di Indonesia berdirilah sindikat buruh kereta api Vereeniging Van Spoor en Tramweg Personeel
(VSTP), organisasi pertama yang
dibentuk bagi buruh-buruh non Eropa, juga perkumpulan Budi Oetomo (BO), yang dinyatakan oleh para sejarawan Indonesia
sebagai perkumpulan pertama yang "berkesadaran nasional" dan yang
hari lahirnya, 20 Mei 1908, diperingati sebagai "hari Kebangkitan
Nasional." Kemunculan serempak dua jenis organisasi tersebut, bukanlah
karena kebetulan, ia mencerminkan adanya kebutuhan baru bagi berbagai lapisan masyarakat
Hindia Belanda, yang berada di bawah suatu tekanan yang sama.
Tahun 1913, seorang bekas
ketua sindikat buruh kereta api Belanda di tahun 1911, sekaligus aktivis Sosialis
Belanda bernama Hendricus Josephus
Fransiscus Marie Sneevliet, atau Henk Sneevliet, datang ke Indonesia. Sneevliet
juga seorang penggerak sayap kiri Partai Sosial Demokrat, partai politik yang
menyatakan dirinya mewakili kepentingan
murni gerakan buruh, kelas buruh, kelas yang paling baru dan paling terhisap
dalam masyarakat modern, kelas yang sambil menghentikan eksploitasi terhadap
dirinya, sekaligus membebaskan masyarakat modern seluruhnya.
Sejak kedatangannya, Sneevliet giat mempropagandakan paham-paham
sosialis. Tanggal 9 Mei 1914, bertempat
di kantor VSTP, Sneevliet mendirikan ISDV
(Indische Sociaal Democratische Vereniging) atau Persatuan Sosial Demokrat
Hindia Belanda, suatu Partai yang didasarkan pada prinsip-prinsip sayap kiri organisasi
buruh yang menghimpun intelektual - intelektual revolusioner bangsa Indonesia
dan Belanda.
Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua
partai sosialis Belanda, yaitu SDAP
(Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP
(Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda. Pada saat itu, ISDV
mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang
yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat
berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet
partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang
menjauhkan diri dari ISDV. Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan
diri dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia.
Sikap anggota ISDV yang tersisa menjadi semakin militan terhadap
isu-isu lokal dan juga melibatkan diri dalam pergerakan nasional. Sehingga Sneevliet
dan ISDV-nya makin digemari dan dihormati masyarakat bawah militan Indonesia, karena
berani dan berprinsip dalam hal politik lokal. Sneevliet berpendapat bahwa
sebab dari kesengsaraan rakyat Indonesia adalah akibat dari struktur masyarakat
tanah jajahan yang diperas oleh kaum kapitalis, walaupun pada saat
pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia.
Kesuksesan ini meraih hormat bagi gerakan sosialis, dan memungkinkan
Sneevliet merekrut para aktivis buruh ke dalam ISDV. Sehingga dalam waktu
singkat anggota serikat ini menjadi dua kali lipat, dan sebagian besar pribumi.
Hubungan ISDV dan Sarekat Islam
Faktor pengaruh Sneevliet yang terpenting, salahsatunya ada pada Semaoen (17 tahun), karyawan muda di
bagian administrasi jawatan kereta api Surabaya, yang pada tahun 1914 menjadi
anggota komite pimpinan VSTP (sindikat buruh kereta api) yang juga kader Serikat Islam di Semarang.
Sneevliet juga berhasil mempengaruhi sekelompok angkatan muda dari Serikat
lslam baik di Semarang maupun di kota-kota lainnya seperti Musso, Alimin, Darsono, Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo dan
lain-lainnya. Dari Sneevliet-lah mereka belajar menggunakan analisis Marxistis
untuk memahami realitas sosial yang dialami.
Dengan konsep perjuangan yang dianggap sama (anti kapitalis), tanpa
disadari Sneevliet telah membangun “blok merah” di Serikat Islam. Hingga pada
akhirnya para aktivis SI tersebut menjadi kader Sneevliet. Taktik yang
dipergunakan oleh Sneevliet untuk bisa bekerja sama dengan SI adalah infiltrasi
yang dikenal dengan nama “blok dari dalam”. Dalam infiltrasi ini, anggota ISDV
dijadikan anggota SI
dan anggota SI
dijadikan anggota ISDV. Inilah yang menjadi awal perpecahan
Serikat Islam kedepannya.
Disisi lain, liberalisme Belanda tidak mendorong perjuangan buruh.
Pemogokan dibalas dengan PHK massal, pembuangan para aktivis ke pulau-pulau
terpencil, dan tindakan apa saja yang perlu untuk menghancurkan gerakan buruh.
Dalam periode ini jarang sekali pemogokan buruh menemui kesuksesan. Namun
demikian, partai ini semakin besar dan dengan cepat berkembang menjadi radikal
dan anti kapitalis. Juga semakin banyak anggotanya termasuk dari Sarikat Islam
yang “disusupi”.
Banyak masalah sulit yang dihadapi oleh ISDV di periode awal
bangkitnya gerakan politik massa ini. Pada periode tahun 1915-1918 penguasa
Belanda menanggapi gerakan massa yang tumbuh dengan mendirikan "Volksraad"
(semacam Dewan di parlemen) yang bertujuan membendung militansi massa. ISDV
(berlawanan dengan pimpinan nasionalis dan ISDP)pada mulanya memboikot badan
ini, tetapi kemudian membatalkan keputusan itu ketika mulai jelas bahwa
Volksraad itu dapat dimanfaatkan sebagai medan propaganda revolusioner.
SERIKAT ISLAM SEMARANG
Serikat Islam Semarang merupakan salah satu cabang SI di bawah SI pusat atau Central Sarikat Islam. SI Semarang awalnya dikenal sebagai organisasi yang “lembek” dan dipimpin oleh kalangan kaum menengah dan pegawai negeri. Tanggal 6 Mei 1917, terjadi pergantian pengurus, dan presiden Sarekat Islam Semarang yang baru adalah Semaoen (19 Tahun), yang juga kader Sneevliet dan anggota ISDV. Kini di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung SI berasal dari kalangan kaum buruh dan masyarakat bawah.
Proses perevolusioneran SI Semarang ini bukan saja dipengaruhi ajaran
“kiri” dari Sneevliet, tapi didukung juga dengan keadaan sosial yang semakin buruk,
seperti persoalan agraria, kekecewaan pada pemerintah, juga beberapa pengaruh
dari luar seperti Revolusi Rusia Oktober
1917 (dimana akhirnya komunis berkuasa).
Kaum Marxis Pertama di Indonesia
SI semarang pun bertekad untuk menentang kapitalisme dengan cara mengorganisasi masyarakat bawah, sehingga membuat SI Semarang menjadi lebih luas, merakyat, militan dan bergeser ke arah Sosialis revolusioner. Dari sini lahirlah gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia (walaupun belum secara harfiah).
Setelah mempengaruhi para pimpinan SI Semarang, Semaoen dan
kawan-kawannya juga “mempengaruhi” para anggota Sarekat Islam cabang lainnya
dengan konsepsi-konsepsi “kiri”nya, sehingga banyak menimbulkan pro dan kontra
dari pengurus SI lainnya. Seperti pada Kongres
Nasional Sarekat Islam ke-2 di Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20 hingga 27 Oktober 1917, yang
membahas hubungan antara agama, kekuasaan dan kapitalisme. Tema yang
menimbulkan perdebatan keras dan kerenggangan (perpecahan) di dalam SI.
Salah satu yang menolaknya adalah kelompok Abdoel Moeis (Tokoh SI), yang memang dari awal sudah tidak setuju akan adanya
penyusupan ke tubuh SI. Akibatnya Sarekat Islam menjadi terpecah. Walaupun pada
masa ini perpecahan baru sekedar isu dan belum di bahas secara formal, namun
Semaoen dan SI Semarang pun berhasil mempengaruhi hampir separuh jumlah SI
cabang-cabang lainnya, sehingga kader-kader nyapun bertambah hampir di setiap
cabang Sarikat Islam. Tanpa disadari, SI pun semakin bergeser kearah “kiri”.
Pergeseran SI Semarang ke kiri, membuat pemerintah Belanda tak tinggal
diam. Tapi malah lebih memilitankan anggota SI dan membuat iklim politik di
Indonesia semakin panas. Kaum buruh diorganisasi supaya lebih militan dan
mengadakan pemogokan terhadap perusahaan-perusahaan yang sewenang-wenang.
SI pun dituduh terlibat dalam gerakan untuk menggulingkan belanda. Pada tahun 1918, para pemimpin SI "kiri" ditangkap,
mulai dari Sneevliet (di buang Belanda), Darsono, Semaoen dan lain - lain.
Penindasan itu, lagi-lagi malah lebih mengembangkan dan memilitankan
Sarekat Islam Semarang. Pada awal tahun 1919,
penghimpunan massa diintensifkan. Seperti Sarekat
Islam Seksi Perempuan, Sarekat Kere
(gembel tionghoa), Persatuan Wartawan
Indonesia (muncul kembali sejak tahun 1915), Perkumpulan diskusi, dan lain
lain. SI Semarang juga melakukan banyak sekali aksi - aksi petani serta
pemogokan buruh. Misalnya saja seperti Peristiwa Toli-toli atau kerusuhan Juni 1919 dan aksi di Cimareme, leles garut. Juga pada bulan Februari
1920, terjadi pemogokan buruh percetakan, seperti pemogokan buruh surat
kabar van dorp dan de locomotif dan lain-lainnya.
Partai Komunis Indonesia (PKI)
Dari pertemuan antara Sarekat
Islam dengan sindikat buruh VSTP dan Partai sosialis kecil ISDV ditambah dari
dorongan ke "kiri" Sarekat Islam di bawah pengaruh VSTP dan ISDV
(dorongan ke kiri itu bisa dibuktikan dalam evolusi berbagai pernyataan SI pada
kongres tahun 1916 dan 1920) yang dinamis dengan semboyan egalitarian "Sama Rata Sama Rasa",
kemudian lahirlah Partai Komunis Indonesia, yang dari ISDV memperoleh basis kelasnya dan dalam
Sarekat Islam mendapat basis massanya.
Sebenarnya tidak ada perbedaan antara ISDV dengan Serikat Islam
Semarang. Di dalam proses perkembangannya ISDV semakin radikal. Banyak pengurusnya
berkebangsaan Belanda, diusir penguasa Kolonial dari Indonesia, sedangkan
orang-orang Indonesia mulai memasukinya. Akhir tahun 1917/1918, Sneevliet
bahkan dibuang pemerintah, karena dianggap menentang belanda. Tahun 1918, ISDV praktis sudah menjadi
perkumpulan orang Indonesia, yang juga
kebanyakan masih anggota Serikat Islam.
Awal Terbentuknya PKI
Pada awal 1920, ISDV
menerima surat dari Haring (nama
samaran Sneevliet, yang sebelumnya di usir Belanda) di Shanghai China, yang
menganjurkan agar ISDV menjadi anggota Komunis Internasional (Komintern) yang berpusat di Moscow, Rusia. Untuk itu harus dipenuhi 21
syarat, antara lain memakai nama terang partai komunis dan menyebut nama
negaranya.
Akhirnya pada tanggal 23 Mei
1920, para aktivis ISDV seperti Semaoen,Darsono (juga anggota Serikat Islam)
dan Douwes Dekker, memutuskan untuk
mengganti nama ISDV menjadi Perserikatan
Komunis Hindia (PKI). Kata "perserikatan" dalam bahasa Melayu
merupakan terjemahan dari kata Belanda "Partij", sedangkan nama PKI itu sendiri, menurut dokumen awal dari
organisasi tersebut, merupakan kependekan dari bahasa Melayu
"Perserikatan Komunis di
India," (orang Belanda menyebut wilayah Indonesia dulu dengan "India") yang bila di Belandakan menjadi "Partij der Kommunisten in Indie".
Semaoen dipilih sebagai ketua, Darsono wakil ketua, Bergsma sekretaris, dan Dekker menjadi
bendahara. Secara formalnya Perserikatan Komunis Di Hindia memang lanjutan dari
ISDV, yang sebagian anggotanya masih tercatat sebagai anggota Sarikat Islam.
Tujuh bulan kemudian, Perserikatan Komunis Di Hindia berganti nama
menjadi Partai Komunis Indonesia, dengan
alasan, nama “Partai Komunis Indonesia” menurut mereka lebik mencerminkan
prinsip perjuangan partai itu.
Versi lain mengatakan perubahan nama dilakukan pada saat kongres bulan
Juni 1924 di Weltevreden (sekarang
Jakarta Pusat), ini merupakan pertama kalinya di Hindia Belanda, sebuah
organisasi memakai kata "Indonesia". Sebetulnya sejak tahun 1922
sudah terdapat sebuah organisasi politik yang bernama Indonesiche Vereeniging, yang kemudian diterjemahkan menjadi
Perhimpunan Indonesia. Tapi organisasi tersebut berada di Nederland, bukan di
negeri sendiri.
Seperti yang tertulis dalam diktat
untuk KPS dan KPSS tentang "Pembangunan Partai" yang disusun oleh
Depagitprop CC PKI di Jakarta 1958, bahwa “Lahirnja
PKI merupakan peristiwa jang sangat penting bagi perdjuangan kemerdekaan Rakjat
Indonesia. Pemberontakan kaum tani jang tidak teratur dan bersifat perdjuangan
se-daerah atau se-suku dalam melawan imperialisme Belanda, jang terusmenerus
mengalami kegagalan, sedjak PKI berdiri, mendjadi diganti dengan perdjuangan
proletariat jang terorganisasi dan jang memimpin perdjuangan kaum tani dan
gerakan revolusioner lainnja”.
![]() |
PKI tahun, Jakarta tahun 1925 |
Selanjutnya Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) Part. 2
Sumber :
1.
Soe Hok Gie.
Dibawah Lentera Merah. Jakarta . 1964.
2.
Jacques Leclerc , Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
3.
Simpang Kiri, Partai Komunis Indonesia
4.
Orang Kiri Indonesia. Musso Si Merah Di Simpang Republik. Seri Buku Tempo. 2011.
5. Depagitprop CC PKI, 1958, Apa Partai Komunis
Itu, diktat untuk KPS dan KPSS tentang “Pembangunan Partai,” Jakarta.
6.
Sejarah
Berdirinya NII, NCC.
8.
Jaman Bergerak Di Hindia Belanda, Edi Cahyono
gan ijin artikelnya untuk referensi web saya
ReplyDeletehttp://www.sejarawan.com/65-peristiwa-madiun-dan-cara-pemerintah-mengatasinya.html
monggo gan, terimakasih udah mampir :)
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletesangat menarik
ReplyDelete